Negara Turki adalah negara di dua benua, dengan luas wilayah
sekitar 814.578 km2, terletak di benua Eropa1. Dalam banyak hal Turki lebih berkiblat ke Barat
dibandingkan mengadaptasi sosio-politik dan kebudayaan Timur dan Asia.
Pada aqbad pertama masehi, wilayah Turki yang saat itu bernama kerajaan Bizantium
memang dikuasai Romawi selama empat abad. Kekuasaan Romawi dijatuhkan kaum
Barbar. Pada masa inilah ibukota kerajaan dipindahkan dari Roma ke
Konstantinopel (sekarang Istambul).
Pada abad ke 12, Bizantium jatuh ke dalam
kekuasaan kerajaan Ottoman yang dipimpin raja Osman I. Pada masa inilah
pemerintahan Turki Ottoman memperoleh pengaruh Islam yang kuat. Bahkan
sepeninggalan Khulafaur Rasyiddin, Turki menjadi Khilafah Islamiyah di bawah
dinasti Utsmaniyah. Wilayahnya meliputi jazirah Arab, Balkan, Hongaria hingga
kawasan Afrika Utara.
Namun kekhalifahan itu hancur akibat perebutan kekuasaan
di dalam yang melibatkan intervensi sejumlah negara asing. Bermula dari
perlawanan terhadap campur tangan asing yang dipimpin Musthofa Kemal Attaturk,
aksi perjuangan berubah menjadi penentangan terhadap kekuasaan Khalifah. Moment
kehancuran Khilafah Islamiyah sendiri terjadi saat rakyat Turki melalui
wakil-wakilnya mengeluarkan Piagam Nasional (Al Mitsaq Al Wathoni). Sejak itu,
Turki menjadi sebuah negara tersendiri, terpisah dari wilayah-wilayah yang dulu
merupakan kesatuan Khilafah Islamiyah.
Pada tanggal 29 Oktober 1923 Majelis Nasional Agung mengumumkan Turki
sebagai suatu negara republik dan presidennya yang pertama ialah Musthofa Kemal
Pasha.
Pada tanggal 20 April 1924, majelis
memberlakukan konstitusi yang secara umum meniru pola-pola negara Eropa Barat.
Dinyatakan bahwa Majelis Nasional Agung memiliki kekuasaan legislatif dan
eksekutif yang kelak dijalankan oleh presiden republik dan dewan menteri.
Tidak dapat disangkal bahwa Turki, di bawah Kemal mengalami
perubahan radikal, bahkan dengan perubahan revolusioner dari orde lama ke orde
baru. Hal yang paling menonjol dari revolusi Turki ini adalah bahwa sebagian
besar, meski secara bertahap, sesuai dengan tujuannya. Kemal dengan negara
barunya memperlihatkan kecenderungan yang sangat berbeda. Ia menegaskan bahwa
Turki sebagai republik baru harus memperjuangkan cita-cita demokrasi seperti
barat.
Pemerintahan Kemal dan para pengikutnya terpuji karena
begitu sadar akan keterbatasannya sehingga kebijakan luar negerinya pun
disesuaikan dengan keterbatasannya. Pemerintah
demokrat Turki melanjutkan politik luar negerinya dengan maksud mempererat hubungan dengan Barat dan meningkatkan posisi
militer dan strategi dengan Israel. Sesuai dengan tujuan ini pula Turki harus
menggalang hubungan baik dengan tetangganya dikawasan Balkan dan Timur Tengah.
Dalam diplomasi Timur Tengah hubungan Turki dengan Israel
akan dipisahkan dari hubungannya dengan Dunia Arab. Meskipun Turki menentang pembagian
wilayah Palestina, akan tetapi tidak pernah menunjukan permusuhan dengan negara
Israel. Bahkan ia merupakan negara pertama di Timur Tengah yang memberikan
pengakuan diplomatik kepada negara Yahudi tersebut. Pertimbangan agama tidak
merusak hubungan persahabatan pada umumnya karena Turki sendiri mempunyai
kebijakan sekuler. Bahkan memiliki beberapa kesamaan dengan Israel. Perbedaan
utamanya ialah bahwa Turki dengan tegas berada di pihak dunia bebas dalam
persaingan Timur Barat, sementara Israel masih hati-hati menentukan sikapnya untuk
memilih salah satu dari dua blok tersebut.
Hubungan Turki-Israel diresmikan maret
1949, ketika Turki menjadi satu negara mayoritas Islam (sebelum Iran pada tahun
1950). Kerjasama diplomatik antara Turki dan Israel diberi prioritas tinggi oleh
pemerintah kedua negara, yang berbagi keprihatinan sehubungan dengan ketidakstabilan
regional di Timur Tengah. Hubungan diplomatik antara kedua negara tersebut
diantaranya adalah dalam bidang militer dan bidang ekonomi.
Hubungan diplomatik dalam bidang militer antara Turki dengan
Israel dilakukan dalam bentuk perjanjian kerjasama secara melembaga pada tahun
1996 yang dilakukan dalam bentuk pembuatan pesawat, persenjataan dan rudal, dan
persiapan kunjungan militer, pengiriman pengamat untuk mengawasi latihan
militer serta pertukaran staf dan militer diantara kedua negara tersebut.
Israel merupakan negara pemasok utama senjata terbesar ke Turki, dan perusahaan
Israel telah bertanggung jawab untuk memodernisasi armada F-4 angkatan udara
Turki. Selain itu, perjanjian kerjasama mereka juga dilakukan bentuk-bentuk
wilayah seperti: udara, laut, tanah, dan intelijen.
Disamping kerjasama dalam bidang militer, Turki dan Israel
juga melakukan kerjasama dalam bidang ekonomi berupa kerjasama dalam bidang
pariwisata dan sumber-sumber alam seperti air, garmen, dan listrik, gas alam
dan minyak bumi serta manufaktur lainnya. Perdagangan antara kedua belah pihak
bernilai lebih dari 3 miliar dolar pertahun dan puluhan perusahaan Turki dan
Israel memiliki usaha patungan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
hubungan Turki-Israel sangatlah dekat, menimbang kerjasama antara kedua negara
tersebut diprioritaskan dalam bidang keamanan. Israel memelihara dua misi
diplomatik di Turki: kedutaannya terletak di ibukota Turki, Ankara, serta
konsulat jenderal terletak di kota terbesar Turki, Istanbul.
Selain melakukan hubungan bilateral dan hubungan diplomatik
lainnya yang bersifat politis, Turki juga terlibat langsung dalam bidang-bidang
kemanusiaan. Hal ini bisa dilihat dari peran Turki terhadap aksi kemanusiaan
dibeberapa negara, seperti di Indonesia, di Afganistan, di Gaza serta peran
turki terhadap aksi kemanusiaan Mavi Marmara dimana Turki menjadi tuan rumah
dalam aksi kemanusiaan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar