Firaun sebenarnya adalah gelar dari penguasa Mesir kuno. Sama seperti gelar 'King' atau 'Kaisar' (Emperor), atau 'Raja'.
Jadi Firaun = King = Kaisar = Raja
Sejak tahun 3200 SM, di Mesir terdapat banyak Firaun, sampai ketika Alexander Agung menaklukkan teritori Mesir ditahun 332 SM.
Jadi Firaun = King = Kaisar = Raja
Sejak tahun 3200 SM, di Mesir terdapat banyak Firaun, sampai ketika Alexander Agung menaklukkan teritori Mesir ditahun 332 SM.
Firaun terbaik dan termurah hati adalah Ahmis I (wafat 1610 SM). Dia
sangat memperhatikan rakyat dan memastikan kebaikan, kebahagiaan dan
kesejahteraan rakyatnya. Itu motto dia satu-satunya. Dia begitu populer
diantara rakyatnya hingga ia dipuja selama 1000 tahun sesudah dia
meninggal sampai Persia menjajah Mesir ditahun 525 SM.
Firaun terkenal lainnya adalah Ramses II (atau Ramses Agung, 1317-1251 SM). Ramses II adalah orang yg sangat pintar, sekular dan
berpikiran sains dan sangat tertarik pada seni serta arsitektur.
Pada abad ke-19 M, dunia arkeologi berhasil menemukan mummi di Thebes,
Mesir. Penemuan mummi yang teridentifikasi sebagai jenazah Fir'aun itu
pada tahun 1898.
Mummi itu diyakini sebagai jenazah Fir'aun Merneptah, anak Fir'aun
Ramses II. Selain menemukan mummi Merneptah, para arkeolog juga
menemukan mummi Ramses II dalam keadaan utuh.
Merneptah diyakini sebagai Fir’aun yang mengejar Nabi Musa hingga ke laut dan mati tenggelam di laut. Sedangkan Ramses II diyakini sebagai fir’aun yang hidup persis sebelumnya, kedua-duanya hidup pada masa Nabi Musa AS.
Merneptah diyakini sebagai Fir’aun yang mengejar Nabi Musa hingga ke laut dan mati tenggelam di laut. Sedangkan Ramses II diyakini sebagai fir’aun yang hidup persis sebelumnya, kedua-duanya hidup pada masa Nabi Musa AS.
Penemuan monumental itu pun sekali lagi menjadi bukti kebenaran dan mukjizat Alquran. Belasan abad sebelum penemuan mummi Firaun itu, Alquran telah menjelaskan tentang fakta itu.
Mari simak surah Yunus [10] ayat 92: "Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu* agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.''
Dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 50, Allah SWT berfirman, ''Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun, sedang kamu menyaksikan.''
Dr. Morris Bukay di dalam bukunya ‘al-Qur’an Wa al-‘Ilm al-Hadiits’
(al-Qur’an dan Ilmu Modern) mengungkap kesesuaian informasi al-Qur’an
mengenai nasib Fir’aun Musa setelah ia tenggelam di laut dan realita di
mana itu tercermin dengan masih eksisnya jasad Fir’aun Musa tersebut
hingga saat ini.
Riwayat versi Taurat mengenai keluarnya
bangsa Yahudi bersama Musa AS dari Mesir menguatkan ‘statement’ yang
menyatakan bahwa Merneptah, pengganti Ramses II adalah Fir’aun Mesir pada
masa nabi Musa AS. Penelitian medis terhadap mumi Merneptah membeberkan
kepada kita informasi-informasi berguna lainnya mengenai dugaan sebab
kematian fir’aun ini.
Sesungguhnya
kitab Taurat menyebutkan, jasad tersebut ditelan laut akan tetapi tidak
memberikan rincian mengenai apa yang terjadi terhadapnya setelah itu.
Sedangkan al-Qur’an menyebutkan, jasad Fir’aun yang dilaknat itu akan
diselamatkan dari air sebagaimana keterangan ayat di atas. Dalam hal
ini, pemeriksaan medis terhadap mumi tersebut menunjukkan, jasad
tersebut tidak berada lama di dalam air sebab tidak menunjukkan adanya
tanda kerusakan total akibat terlalu lama berada di dalam air.
Dr.
Morris Bukay menyebutkan bahwa dalam sebuah penelitian medis dengan
mengambil sampel organ tertentu dari jasad mumi tersebut pada tahun 1975
melalui bantuan Prof Michfl Durigon dan pemeriksaan yang detail dengan
menggunakan mikroskop, bagian terkecil dalam organ itu masih dalam
kondisi terpelihara secara sempurna. Ini menunjukkan, keterpeliharaan
secara sempurna itu tidak mungkin terjadi andaikata jasad tersebut
sempat tinggal beberapa lama di dalam air atau bahkan sekali pun berada
lama di luar air sebelum terjadi proses pengawetan pertama.
Dr.
Bukay juga melakukan penelitian yang hasilnya, bahwa semua
penelitian itu sesuai dengan kisah-kisah yang terdapat dalam kitab-kitab
suci yang menyiratkan Fir’aun tewas ketika digulung gelombang…”
Dr.
Bukay menjelaskan sisi kemukjizatan masalah ini. Ia mengatakan, “Di
zaman di mana al-Qur’an sampai kepada manusia melalui Muhammad SAW,
jasad-jasad para Fir’aun yang diragukan orang di zaman kontemporer ini
apakah benar atau tidak ada kaitannya dengan saat keluarnya Musa, sudah
lama terpendam di pekuburan lembah raja di Thoba, di pinggir lain dari
sungai Nil di depan kota al-Aqshar saat ini.
Pada
masa Muhammad SAW segala sesuatu mengenai hal ini masih kabur.
Jasad-jasad tersebut belum terungkap kecuali pada penghujung abad
ke-19.
Dengan begitu, jasad Fir’aun Musa yang masih eksis hingga
kini dinilai sebagai persaksian materil bagi sebuah jasad yang diawetkan
milik seorang yang mengenal nabi Musa AS, menentang permintaannya dan
memburunya dalam pelarian serta mati saat pengejaran itu. Lalu Allah
menyelamatkan jasadnya dari kerusakan total sehingga menjadi tanda
kebesaran-Nya bagi umat manusia sebagaimana yang disebutkan al-Qur’an
al-Karim.
Informasi sejarah
mengenai nasib jasad Fir’aun tidak berada di tangan manusia mana pun
ketika al-Qur’an turun atau pun setelah beberapa abad setelah turunnya.
Akan tetapi ia dijelaskan di dalam Kitab Allah SWT sebelum lebih dari
1400 tahun lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar