Baru-baru ini di instansi
saya terjadi pergantian pejabat.
Banyak hal yang
menarik yang saya amati dalam proses maupun hasil pemilihan pejabat. Ada yang
sangat ambisi menjadi pejabat sehingga dia berupaya melalui segala cara untuk
mendapatkan posisi tertentu (bahkan katanya ada yang mengeluarkan uang belasan
sampai ratusan juta). Ada pula yang dulunya telah menduduki jabatan dan telah
dibuktikan sukses/berhasil dalam pekerjaannya, namun karena tidak disukai (baik
itu oleh tim sukses, maupun baperjakat yang bisa jadi karena tidak memberikan
setoran) akhirnya harus rela melepaskan jabatan mereka, padahal sangat
berpotensi. Ada pula yang sebenarnya memiliki potensi dan diperkirakan
lebih mampu memegang suatu jabatan tapi karena tidak disukai (entah itu karena
dinilai terlalu vokal atau susah dikendalikan atau pernah bersinggungan secara
pribadi) akhirnya sangat susah untuk bisa menduduki jabatan. Ada pula yang
setelah berupaya dengan segala cara (termasuk memfitnah) tapi toh tidak
terpilih juga, akhirnya menebarkan fitnah, caci maki, dan segala prasangka
buruknya.
Karena SKPD saya merupakan merupakan tembat yang dianggap "basah" oleh hampir semua orang, sehingga memiliki daftar urut calon2 pejabat yang ingin menjabat disana.... Dan jika diperhatikan perkembangan 3 bulan terakhir....akan terlihat bahwa telah terjadi "lobi-lobi", "jual-beli" untuk mendapatkan jabatan di SKPD ini....
Masya Allah... Sebenarnya
apa yang mereka cari dengan jabatan tersebut?
Saya hanya bisa merenung,
ternyata banyak orang tidak sadar bahwa jabatan adalah amanah yang harus mereka
pertanggung-jawabkan dihadapan orang yang memberikan dan mempercayakan amanah
tersebut (bawahannya atau masyarakat) dan dihadapan Allah SWT.
Seandainya mereka
sadar terhadap apa yang melekat pada jabatan tersebut dan kelak dihadapan
Allah, semua jabatan/amanah yang menjadi tanggung jawab mereka akan dihisab, mungkin tidak banyak orang mau menjadi pejabat dan sejauh
mungkin menghindar untuk jadi pejabat.....
Saat ini...jabatan
adalah posisi yang seolah-olah menjanjikan kemakmuran, kehormatan, dan
kemudahan mendapatkan akses bagi kepentingan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar