Jumat lalu telah terjadi mutasi besar-besaran di instansi ini. Mereka bilang ini untuk perbaikan kearah yang lebih baik, dan sapu bersih semua yang tidak baik.
Anehnya dalam sapu bersih ini....justru yang terbaiklah yang di-NJ-kan, tidak lagi diberi kepercayaan.
Pada hari itu aku kehilangan tim, sahabat terbaik selama berdinas....sungguh mengejutkan...membuat diri tak percaya...bahwa ini terjadi. Selalu bertanya dalam hati apa kesalahan yang telah dilakukan sehingga mereka "hanyut dibawa galodo". Jawaban untuk ini tak pernah berhasil ditemukan, kecuali bahwa segelintir orang yang menamakan diri "Tim Sukses" tidak menyukai mereka, dan bahwa ada "permainan politik" dalam menjatuhkan mereka.
Saat mendengar berita ini, aku seperti kehilangan semangat, kehilangan kepercayaan diri, dan kehilangan kekuatan untuk terus melangkah....Kejadian ini mengingatkan diri pada kejadian beberapa tahun yang lalu...saat kehilangan orang yang penting di tempat dinas ini. Namun pada saat itu, masih ada tempat bersandar yang lain yang bisa memberikan semangat, memberikan dukungan...Tapi sekarang semua hilang....
Berharap bisa kembali menata hati...agar dapat menerima keadaan ini dengan ikhlas. Pada senin pagi dua orang kabid memanggil untuk mengirim nama menjadi PPBJ di instansi lain. Ketika diri menolak untuk menjadi PPBJ, malah mendapatkan ancaman bahwa jika tidak mau melaksanakan tugas bisa dilaporkan ke "atasan" bahwa aku tidak bersedia melaksanakan tugas, dan mereka berkata bahwa aku beruntung masih tetap di jabatan ini, dan jangan ikut-ikutan dengan yang lain yang sudah "karam".
Ancaman ini mengingatkan aku pada slogan yang selalu diucapkan oleh Bush "ikut kami atau menjadi lawan kami".....bukankah ini sungguh arogan????
Seingat aku...menjadi PPBJ bukanlah bagian dari tupoksi yang harus dikerjakan...tapi kenapa harus "dipaksa"??? Apakah ini yang dinamakan pemimpin???? Mereka beranggapan bahwa dengan tidak mau menjadu PPBJ berarti mau memboikot dan protes terhadap apa yang terjadi... Bukankah seharusnya mengadakan diskusi dahulu dan menanyakan apa sebabnya menolak untuk menjadi PPBJ.
Sebenarnya alasannya sangat sederhana....bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, memang hanya satu instansi luar yang aku bersedia untuk menjadi PPBJ, dan karena tahun ini aku udah ditunjuk pada satu instansi luar, maka aku menolak untuk yang lainnya... dan ini berhubungan dengan penilaian terhadap kemampuan diri sendiri...jangan sampai terjadi ada banyak SK, namun tidak dapat mengerjakannya dengan baik, dan akhirnya pekerjaan akan menumpuk.
Pada hari selasa, para pejabat baru sudah datang dan melapor. Dan salah satu kasi baru yang satu bidang denganku masuk ke ruangan, aku menyambutnya dengan baik, berharap dengan permulaan yang baik akan berakhir baik. Tapi alangkah kagetnya diri ketika hal pertama yang ditanya adalah "Mana DPA Kegiatan saya?"
Aku langsung terperangah, mengapa yang ditanya langsung DPA??? Mengapa bukan apa tugas saya di bidang ini?...yang menjadi pertanyaannya.
Satu hal yang langsung memenuhi pikiran yaitu yang ingin diketahuinya adalah berapa anggaran, berapa angka-angka yang bisa didapatkannya....walaupun ini hanya pikiran negatif-ku saja. Jadi yang ada dalam pikran orang luar instansi adalah bahwa di instansi-ku sangat banyak "uang"nya.
Itu hanya satu hal yang tidak menyenangkan tentang dia, ada lagi yang lain....yaitu ketika dia bertanya dimana pejabat yang digantikannya berada. Ketika dia bertanya untuk pertama kalinya, aku jelaskan dengan baik bahwa orang tersebut sedang ada di RS karena istrinya baru saja melahirkan dan operasi caesar. Ketika dia bertanya untuk kedua kalinya, Kabidlah yang menjawab....anehnya dia bertanya lagi untuk ketiga kalinya....dan aku mulai merasa kesal, dalam hati bertanya apakah dia tidak mengerti, atau apakah dia sangat mudah lupa (seperti nenekku yang udah mulai pikun yang menanyakan ini hari apa sampai 10 kali dalam sehari), atau karena dia sudah sangat tidak sabaran untuk serah terima jabatan. Untungna aku masih menjawab dengan baik, walaupun sudah dengan intonasi yang cukup tinggi, sambil berkata dalam hati bahwa jika dia bertanya sekali lagi, mungkin akan aku "teriaki".
Dengan teman satu ruangan yang seperti ini, aku berharap suasana akan baik, berharap bahwa penilaian pertama ternyata salah.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar