Mesir pernah menjadi negara yang menentang keras berdirinya rezim
ilegal Israel, bahkan memerangi Tel Aviv.
Ketika Israel di tahun 1948
mendeklarasikan eksistensi ilegalnya di atas tanah Palestina, mayoritas
negara Arab geram dan bangkit memerangi Israel.
Presiden Mesir di dekade 60-an, Gamal Abdul Nasser termasuk pelopor
perang anti Israel. Dengan landasan ideologi nasionalisme Arab, ia
berusaha menghimpun kekuatan bangsa Arab melawan Israel. Namun kekalahan
telak yang diterima negara Arab di perang enam hari tahun 1967,
langsung membuat semangat perang mereka merosot tajam. Mereka pun
tenggelam dalam kebingungan dan keterkucilan.
Di kondisi seperti ini, Mesir yang sebelumnya menjadi pelopor perang
anti Israel berubah 180 derajat dan bersedia berdamai dengan Tel Aviv.
Tak hanya itu yang membuat banyak pihak tercengang, Kairo bahkan lebih
berani dengan mengakui secara resmi Rezim Zionis Israel.
Selanjutnya
Mesir bukan hanya tidak memerangi Israel, namun malah bekerjasama dengan
rezim ini baik di bidang politik maupun keamanan. Mubarak yang kemudian
menjabat presiden Mesir tak lama setelah penandatanganan perjanjian
damai antara Kairo dan Tel Aviv dapat disebut sebagai satu-satunya
pemimpin Arab yang paling dekat dengan Israel.
Di era kepemimpinan Mubarak, baik dari segi politik maupun keamanan
memiliki kedekatan dengan Israel. Mubarak juga dapat disebut sebagai
benteng pertahanan Israel. Puncak kedekatan Mesir dengan Israel terjadi
sekitar tiga tahun lalu ketika militer Israel menyerang Jalur Gaza
secara brutal. Pemerintah Mesir kala itu, bukannya berusaha menghentikan
brutalitas Israel terhadap warga Gaza, namun malah menutup jalur
penyeberangan Rafah. Dengan demikian Mesir menjadi tangan kanan Israel
dalam menumpas serta memboikot warga Gaza.
Oleh karena itu, runtuhnya pemerintahan Mubarak di Mesir merupakan
pukulan telak bagi Israel. Di tengah iklim yang mayoritas negara Arab
masih belum mengakui secara resmi eksistensi rezim ilegal Israel dan
opini publik di negara-negara ini cenderung anti Israel maka tumbangnya
pemerintahan yang dekat dengan Israel di Mesir yang sebut banyak pihak
sebagai halaman kosong Israel di Dunia Arab membuat kondisi rezim ini
semakin sulit.
Beberapa waktu yang lalu, Majelis rendah di parlemen Mesir dengan suara bulat telah menyetujui
sebuah teks deklarasi bersama yang menyatakan bahwa Israel adalah musuh
nomor satu di Mesir. Dalam deklarasi bersama parlemen Mesir tersebut
telah menyerukan pengusiran Duta Besar (Dubes) Israel dan menghentikan
total ekspor minyak ke Israel.
Revolusi Mesir hadir bukan menjadi kaki tangan Zionis, karena Israel
adalah musuh nomor satu Mesir dan bangsa Arab," dalam teks deklarasi
tersebut. Dalam teks itu juga menyebutkan. "Pemerintah Mesir dengan
segera untuk meninjau kembali semua hubungan dan kesepakatan dengan
Israel."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar