Selasa, 13 Maret 2012

Mesir - Israel

Mesir pernah menjadi negara yang menentang keras berdirinya rezim ilegal Israel, bahkan memerangi Tel Aviv. 

Ketika Israel di tahun 1948 mendeklarasikan eksistensi ilegalnya di atas tanah Palestina, mayoritas negara Arab geram dan bangkit memerangi Israel.

Presiden Mesir di dekade 60-an, Gamal Abdul Nasser termasuk pelopor perang anti Israel. Dengan landasan ideologi nasionalisme Arab, ia berusaha menghimpun kekuatan bangsa Arab melawan Israel. Namun kekalahan telak yang diterima negara Arab di perang enam hari tahun 1967, langsung membuat semangat perang mereka merosot tajam. Mereka pun tenggelam dalam kebingungan dan keterkucilan.


Di kondisi seperti ini, Mesir yang sebelumnya menjadi pelopor perang anti Israel berubah 180 derajat dan bersedia berdamai dengan Tel Aviv. Tak hanya itu yang membuat banyak pihak tercengang, Kairo bahkan lebih berani dengan mengakui secara resmi Rezim Zionis Israel. 

Selanjutnya Mesir bukan hanya tidak memerangi Israel, namun malah bekerjasama dengan rezim ini baik di bidang politik maupun keamanan. Mubarak yang kemudian menjabat presiden Mesir tak lama setelah penandatanganan perjanjian damai antara Kairo dan Tel Aviv dapat disebut sebagai satu-satunya pemimpin Arab yang paling dekat dengan Israel.

Di era kepemimpinan Mubarak, baik dari segi politik maupun keamanan memiliki kedekatan dengan Israel. Mubarak juga dapat disebut sebagai benteng pertahanan Israel. Puncak kedekatan Mesir dengan Israel terjadi sekitar tiga tahun lalu ketika militer Israel menyerang Jalur Gaza secara brutal. Pemerintah Mesir kala itu, bukannya berusaha menghentikan brutalitas Israel terhadap warga Gaza, namun malah menutup jalur penyeberangan Rafah. Dengan demikian Mesir menjadi tangan kanan Israel dalam menumpas serta memboikot warga Gaza.

Oleh karena itu, runtuhnya pemerintahan Mubarak di Mesir merupakan pukulan telak bagi Israel. Di tengah iklim yang mayoritas negara Arab masih belum mengakui secara resmi eksistensi rezim ilegal Israel dan opini publik di negara-negara ini cenderung anti Israel maka tumbangnya pemerintahan yang dekat dengan Israel di Mesir yang sebut banyak pihak sebagai halaman kosong Israel di Dunia Arab membuat kondisi rezim ini semakin sulit.

Beberapa waktu yang lalu, Majelis rendah di parlemen Mesir dengan suara bulat telah menyetujui sebuah teks deklarasi bersama yang menyatakan bahwa Israel adalah musuh nomor satu di Mesir. Dalam deklarasi bersama parlemen Mesir tersebut telah menyerukan pengusiran Duta Besar (Dubes) Israel dan menghentikan total ekspor minyak ke Israel.

Revolusi Mesir hadir bukan menjadi kaki tangan Zionis, karena Israel adalah musuh nomor satu Mesir dan bangsa Arab," dalam teks deklarasi tersebut. Dalam teks itu juga menyebutkan. "Pemerintah Mesir dengan segera untuk meninjau kembali semua hubungan dan kesepakatan dengan Israel."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar