Israel secara umum dapat dikatakan menjadi pecundang utama
kebangkitan revolusi bangsa Arab yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini.
Walaupun diketahui bahwa tuntutan utama para revolusioner di negara Arab adalah perubahan sistem
dikatator serta sistem politik yang terbuka, tapi tidak diragukan lagi
bahwa salah satu dampak dari perubahan mendasar sistem politik dan
demokratisasi adalah transformasi serius dan mendasar di bidang
kebijakan luar negeri negara-negara Arab ini.
Salah satu
poin opini publik Arab adalah sentimen anti Israel.
Tak
diragukan lagi pemerintahan sipil mau tidak mau harus mengkaji ulang
ideologi dan pandangan mereka di berbagai bidang termasuk kebijakan luar
negeri khususnya hubungan dengan Rezim Zionis Israel.
Sejak perubahan
yang terjadi di Dunia Arab banyak kalangan memprediksikan bahwa
mengingat sentimen anti Israel yang meluas di negara Arab maka salah
satu dampak serius dari kebangkitan rakyat Arab juga mempengaruhi
hubungan Arab dengan Israel.
Sementara itu, Israel
saat ini tengah mengkhawatirkan meningkatkan kekuatan kubu Islam di
negara-negara Arab. Khususnya kubu ini paling anti Israel dibandingkan
dengan kelompok lainnya.
Hasil pemilu terbaru di Tunisia, Maroko dan
Mesir menunjukkan dukungan besar rakyat terhadap kubu Islam. Tentunya
hal ini kian membuat Israel khawatir. Tel Aviv khawatir naiknya kubu
Islam di Mesir serta negara Arab lainnya membuat hubungan mereka dengan
negara Arab kian renggang dan posisi Israel di kawasan pun akan
terguncang.
Perubahan di konstelasi antara Arab dan
Israel pasca kemenangan revolusi Arab bukan berarti konfrontasi
bersenjata dan militer dengan rezim ilegal ini. Namun yang pasti
perjalanan selanjutnya negara Arab tidak akan menguntungkan dan
seharmonis di era Mubarak bagi Israel. Sepertinya babak baru yang tidak
menguntungkan Israel di kawasan mulai terbentuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar